Tampilkan postingan dengan label sabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Maret 2013

Propaganda Raja Muda Kabur Meninggalkan Anak Buahnya

Manila - Kehebohan terjadi kemarin ketika pihak Malaysia mengklaim lewat harian The Star Online bila Raja Muda Agbimuddin Kiram telah melarikan diri dari Sabah, meninggalkan anak buahnya dan kembali ke Filipina.

Pernyataan ini disampaikan oleh Zulkifeli Zin pimpinan militer Malaysia yang menyatakan bila menurut laporan intelejen, Agbimuddin Kiram yang menurut keluarganya masih berada di Sabah telah berhasil keluar dari kepungan militer dan keluar dari Malaysia.

"Dia meninggalkan anak buahnya dan kembali ke Filipina", demikian menurut Zulkifeli.

Dari pihak keluarga dengan serta merta menolak klaim ini. Juru bicara kesultanan Sulu Indjirani mengatakan bila klaim dari militer Malaysia ini hanyalah propaganda belaka.
"Itu hanya propaganda dari Malaysia supaya tidak mengganggu pemilu mereka karena acara ini semakin dekat", demikian katanya.

Idjirani mengatakan bila dia baru saja berbicara dengan Raja Muda sekitar pukul 2 sore hari Jumat. Raja Muda mengkonfirmasi bila dia masih ada di Sabah bersama para pengikutnya.

Dalam kesempatan yang lain, Malaysia mulai kemarin memperbolehkan reporter luar negeri untuk ikut meliput operasi Daulat di Sabah. Meski demikian, para reporter mendapat kawalan ketat dari para tentara ketika melakukan peliputan.

sumber: abs-cbn, the star

Tokoh Filipina Membantah Terlibat Konflik Sabah

Manila - Mantan penasehat keamanan Norberto Gonzales memecah kesunyian setelah sekian lama menjadi tertuduh atas konspirasi yang terjadi di Sabah.

Gonzales mengatakan bila dia siap untuk menghadapi investigasi bila memang diperlukan, demikian harian Filipinan ANC melaporkan. Dalam wawancara tersebut dia mengakui bila dia sangat dekat terhadap kesultanan Sulu. Malah pernah dalam beberapa kesempatan dia tinggal dan menetap di rumah Sultan Sulu Jamalul Kiram. Namun kedekatan mereka hanya sebatas itu saja dan dia sama sekali menampik terlibat dalam konflik Sulu.

Dari publik Filipina sendiri setelah beberapa hari pemerintahan Filipina di dera oleh kritik yang keras dari berbagai pihak, kali ini salah seorang senator Filipina bernama Antonio TRillanes IV pada hari Jum'at menyatakan bila publik harus percaya atas keputusan Presiden Aquino mengenai konflik Sabah.

Menurutnya publik bisa dengan mudah mengkritisi pemerintahan, namun mempercayai presiden atas kebijakan luar negeri merupakan bagian dari kesepakatan setelah kita memilihnya menjadi presiden tahun 2010.
Trillianes juga menambahkan bila saat ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan dan pemerintah harus lebih fokus untuk memperhatikan keamanan warga Filipina di Sabah.

Dari Malaysia dilaporkan 15 orang ditemukan telah tewas dan terkubur di tiga buah kuburan masal di Kampung Tanduo. Pemerintahan Malaysia sesuai konvensi Jenewa telah meminta Pemerintahan Filipina untuk mengambil korban dan akan menguburkannya apabila dalam 3 hari masih belum di klaim oleh Filipina.
Beberapa hari yang lalu juga telah dihalau 8 orang anak muda dari Filipina yang berusaha masuk ke wilayah Sabah. Hal ini mengisyaratkan bila konflik yang terjadi Sabah bisa berlangsung lebih lama.


sumber: abs-cbn, ANC

Jumat, 15 Maret 2013

Filipina Bersiap-siap Terhadap Kemungkinan Krisis Kemanusiaan

Manila - Pemerintahan Filipina sedang mempersiapkan pencegahan dari kemungkinan timbulnya krisis kemanusiaan akibat tekanan pemerintah Malaysia terhadap pendukung Sultan Sulu Jamalul Kiram III di Sabah.

Pejabat perwakilan pemerintah Mar Roxas pada hari Kamis kemarin mempimpin rapat di Camp Crame untuk menjalankan instruksi dari Presiden Aquino untuk dapat memetakan rencana pemerintah dalam menghadapi kemungkinan masalah yang timbul akibat datangnya pendatang illegal Filipina dari Sabah.

"Presiden menginginkan kepala daerah untuk memastikan bila suply makanan dan dukungan pemerintah ada untuk rakay di Basilan, Sulu dan Tawi-Tawi", demikian menurut Roxas.

"Presiden memerintahkan kita untuk memastikan keamanan warga Filipina yang tinggal di area tersebut dan pemerintah bisa siap bila terjadi evakuasi", dia menambahkan.

Sekertaris bidang sosial Dinky Soliman menyatakan ada sekitar 1500 warga Filipina yang tidak teridentifikasi dari Sabah telah tiba di pantai Sulu dan Tawi-Tawi.

Soliman berkata bila pemerintah memperkirakan akan banyak warga Filipina yang meninggalkan Sabah karena pihak Malaysia masih terus melanjutkan pengejarannya terhadap pengikut Sultan.

Ketika Roxas ditanya apakah eksodus yang terjadi sekarang telah menimbulkan krisis kemanusiaan? Roxas menyatakan tidak untuk saat ini.

Dari Malaysia sendiri kemaren dua orang personel militer Malaysia tewas. Ahmad Hurairah tewas setelah baku tembak dengan sekelompok milisi di sungai Nyamuk, Kampung Tanjung Batu di Lahad Datu.  Sedangkan seorang korban lagi bernama Ahmad Farhan tewas ketika terjadi bentrokan di Jalan Tungku Lahad Datu dalam sebuah konvoy.







 
sumber: inquirer, theborneopost, youtube

Kamis, 14 Maret 2013

Ada Pihak Ketiga Bermain di Konflik Sabah?

Manila - Malaysia dan Filipina sedang bekerja sama untuk menginvestigasi tuduhan bila ada konspirasi di konflik Sabah.

Dari sisi Malaysia, mereka sedang meneliti kemungkinan terlibatnya oposisi pemerintah dimana tuduhan ini langsung serta merta di tolak oleh pimpinan oposisi yaitu Anwar Ibrahim.

Di Malacanang dilaporkan bila pemerintah mensinyalir ada grup lain yang mungkin membiayai misi Raja Muda Agbimuddin kiran dan pasukannya ke Sabah.

Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman berkata, "Kami harus mendapatkan informasi (tambahan) dari pemerintah Filipina, (terutama) dari pihak militer. Saya telah membawa isu ini kepada Menlu Filipina untuk diinvestigasi lebih lanjut dan menginformasikan kita. Pada waktu bersamaan juga perlu dilakukan penelitian dari sisi kita", demikian katanya.

Pihak Malaysia juga menambahkan demi alasan keamanan, Malaysia tidak memperbolehkan pihak Filipina untuk memasuki daerah konflik di Sabah.

Malaysia Menolak Tuduhan Pelanggaran HAM

Mengenai tuduhan pelanggaran HAM terhadap para wanita, anak-anak dan korban perang, Malaysia membantah dengan tegas bila hal itu telah terjadi. Pemerintah Malaysia justru menuduh pasukan Kesultanan Sulu lah yang telah bertindak brutal yang melakukan tindakan teror di Lahad Datu dan Semporna, Sabah.

Menurut pihak Malaysia, tuduhan yang pertama kali dilemparkan oleh harian Inquirer di Filipina tanggal 9 dan 10 Maret 2013 merupakan tindakan yang tidak bisa dibenarkan dan sangat bertentangan dengan reportase yang profesional.



sumber: abs-cbnnews, youtube

Filipina Serukan Malaysia Memperhatikan Seruan PBB

Manila - Seiring semakin besarnya tekanan publik Filipina terhadap pemerintahnya, Filipina mulai berusaha untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap isu Sabah. Hari ini Departemen Hubungan Luar Negeri Filipina (DFA) menyerukan agar Malaysia memperhatikan seruan dari PBB untuk mencari penyelesaian konflik berdarah di Sabah melalui jalan damai.

Disisi lainnya, DFA juga sedang berusaha keras untuk bisa mendapat akses ke Sabah. Sampai saat ini pemerintah Filipina masih belum mempunyai akses untuk bisa memberikan bantuan kepada para warga Filipina yang ditawan.

"Untuk saat ini, kami sedang menunggu apa respon dari Malaysia terhadap seruan dari PBB", demikian pernyataan yang disampaikan oleh Raul Hernandez juru bicara dari DFA dalam pers conference hari ini.
Menurutnya, pemerintah Filipina sampai saat ini sama sekali tidak mengetahui dimana lokasi para tawanan berada.

Anonymous Filipina Beraksi

Tekanan terhadap pemerintah Filipina semakin gencar dari dalam negeri karena pemerintah dianggap gagal untuk memberikan respond yang sepadan atas kejadian yang menimpa terhadap warga Filipina di Sabah. Selain dengan demo dan pernyataan keras terhadap pemerintah, serangan dari dunia maya pun dilakukan.

Situs presiden Filipina juga menjadi korban atas serangan yang menurut ABS-cbnnews ulah dari Anonymous PH. Halaman muka dari website presiden telah berubah menjadi kritikan dari defacers atas kegagalan dari pemerintah dalam mengatasi konflik Sabah.

"Anda tidak melakukan apa-apa ketika saudara kita dibantai oleh militer Malaysia sedangkan perempuan dan anak-anak kita menjadi sasaran pelanggaran HAM. Jika anda tidak dapat bertindak sebagai presiden Filipina, setidaknya bertindaklah sebagai warga Filipina. Kami mengawasi", demikian salah satu pernyataan dari mereka di situs yang diretas.

Situs presiden Filipina yang diretas ketika Warta Perang Dunia intip ternyata menggunakan CMS wordpress. Sehingga besar kemungkinan para peretas memanfaatkan bolong dari cms open source tersebut.

sumber: abs-cbnnews

Rabu, 13 Maret 2013

Ini Dia Penyebab Filipina Setengah Hati Di Konflik Sabah

Manila - Rupanya telah terjalin perjanjian rahasia antara Filipina dengan Malaysia yang dilakukan sekitar tahun 1983. Mantan senator Benigno “Ninoy” Aquino Jr. telah menjanjikan kepada Malaysia tidak akan mengungkit klaim masalah Sabah apabila Malaysia mau membantu Filipian dalam rangka melengserkan diktator kuat yang berkuasa waktu itu yaitu Ferdinand Marcos.

Pernyataan ini disampaikan oleh seorang pejabat kementrian luar negeri yang bernama Hermes Dorado. Aquino kemudian bertemu dengan PM Malaysia waktu itu Mahathir Mohammad sebelum dia sendiri meninggal dunia ketika ditembak mati sewaktu baru mendarat kembali di Filipina.

Pernyataan ini menurut Dorado juga didukung oleh pensiunan Jenderal yang bernama Ileto. Jenderal Ileta mengkonfirmasi hal ini secara tidak langsung bila Ninoy Aquino meminta pertolongan dari Mahathir dengan timbal balik tidak akan menggugat klaim Sabah.

"Tangan kita terikat hari ini karena kepemimpinan sampai saat ini berkomitmen untuk membatalkan klaim Filipina terhadap Sabah", demikian katanya.

Bukti paling nyata akan adanya kesepakatan ini terdapat dalam konstitusi 1987 yang mengamandemen artikel pertama dari konstitusi tahun 1973 yang menghapus kalimat, "dan semua wilayah yang dimiliki Filipina berdasarkan sejarah dan dan hukum".

Nyonya Aquino tidak mempunyai pilihan selain menghormati komitmen Ninoy (suaminya yang tewas di tembak red.) terhadap Mahathir karena dia perlu dukungan dari ASEAN untuk melegitimasi posisi dia sebagai presiden melalui revolusi People Power.

"PM Malaysia Mahathir menolak untuk menghadiri pertemuan ASEAN di Manila sampai presiden Cory Aquino melakukan perubahan terhadap artikel no. 1 dari konstitusi 1973", demikian katanya menambahkan.

Sabah menghasilkan minyak yang sangat menguntungkan sejak tahun 1987 dan akhirnya wilayah inilah yang diklaim oleh Kesultanan Sulu.

Disisi lain Jacel Kiram - putri Sultan Sulu - menyatakan bila perjanjian pinjam North Borneo itu berakhir tahun 1978 dan seharusnya rakyat Filipina yang mendapatkan keuntunga paling banyak atas wilayah ini, namun pemerintahan Aquino ternyata lebih mementingkan kepentingan PM Malaysia dibanding kepentingan rakyat Filipina.

Tekanan publik Filipina terhadap pemerintah semakin tinggi akhir-akhir ini setelah tersiar kabar bagaimana brutal dan buruknya perlakuan militer Malaysia terhadap warga Filipina yang tertangkap. Salah seorang calon senator dan tokoh Filipina seperti Greco Belgica mengatakan bila Filipina seharusnya siap sedia perang untuk membela warga Filipina.
Dari Malaysia sendiri pertempuran telah memakan korban 4 orang tewas dalam serangan terakhir. Namun dengan tertutupnya pintu informasi, tidak ada yang dapat mengkonfirmasi dengan jelas apa yang terjadi di dalam Sabah.

sumber: abs-cbnnews

Selasa, 12 Maret 2013

Raja Muda Selamat dan Reporter Filipina Ditolak Meliput Sabah

Manila - Berita simpang siur mengenai status tewasnya Raja Abgimuddin merebak ketika beberapa media Malaysia mengabarkan bila jasad adik Kesultanan Sulu telah ditemukan. Demikian menurut kompas yang melansir dari inquirer.net.

Namun ketika warta perang dunia mencoba menelusuri ke berbagai media yang ada, tidak ada pernyataan secara resmi yang menyatakan bila Raja Muda telah tewas. Dari pihak Malaysia sendiri memang mengakui telah menewaskan 20an orang anggota militan, dan katanya salah seorang jenderalnya bernama Haji Musa yang juga merupakan tokoh MNLF ikut tewas, namun tidak ada kepastian mengenai status dari Raja Muda.

Dari Filipina pihak keluarga kesultanan Sulu menyatakan bila raja muda dalam keadaan baik-baik saja dan bisa selamat dari sergapan pasukan Sulu di Lahad Datu kemarin. Dalam pembicaraan antara Jaycel - putri Sultan Sulu - bersama pamannya - Raja Muda Agbimuddin, diakui bila mereka belum bisa bertemu dengan Haji Musa sehingga status dari beliau tidak diketahui.

Jurnalis Dari Filipina Ditolak Meliput Sabah
Kembali ke Malaysia, pemerintahan Malaysia menyatakan menolak wartawan-wartawan dari Filipina yang meliput konflik Sabah ini. Menurut pihak Malaysia hal ini dilakukan untuk menghindari simpang siurnya berita.
Beberapa hari sebelumnya, media Filipina ramai mengabarkan bagaimana brutal dan buruknya perlakuan pihak Malaysia terhadap warga Filipina yang ditangkap. Namun dengan tertutupnya Malaysia akan akses publik terhadap konflik Sabah, berita-berita yang beredar sangat sulit untuk dikonfirmasi.

Keluaga Kesultanan Sulu Terpecah?

Dari Filipina di Camp Crame, Quezon City, kemarin baru saja dilakukan perundingan antara Mar Roxas perwakilan dari pemerintah Filipina dengan Sultan Bantilan Esmail Kiram II saudara dari Jamalul (Sultan Sulu Red.). Dalam pembicaraan tersebut disampaikan pertanyaan dari Esmail sebagai perwakilan dari keluarga untuk mengetahui bagaimana mekanismenya "meletakan senjata" seperti yang diminta oleh pihak Malaysia.

Namun anehnya, meskipun Esmail menyatakan diri sebagai perwakilan dari keluarga, dari pihak Kesultanan Sulu sendiri dengan diwakili oleh juru bicaranya Indjirani menyatakan bila Jamalul tidak memerintahkan Esmail untuk menemui Roxas, padahal menurut Esmail dia telah meminta persetujuian dari Jamalul untuk menemui Roxas.

Putri Jacel sendiri yang rupanya juga ada dalam pertemuan itu menyatakan bila apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah gesture yang baik sebagai warga negara Filipina memenuhi permintaan pemerintah.

sumber: interaksyon, inquirer

Sabtu, 09 Maret 2013

Putri Kiram: Menyerah Bukan Pilihan, Wanita Hamil dan Anak Ditembaki

Manila - Putri dari Sultan Sulu Jamalul Kiram III pada Sabtu kemarin mengatakan bila para pengikut Sultan akan tetap dalam pendiriannya untuk tidak menyerah meskipun kementrian Luar Negeri Filipina mengatakan bila meletakan senjata adalah satu-satunya jalan.

Berbicara dengan radio dzMM, putri Jaycel mengatakan bila grup yang dipimpin oleh Raja Muda Agbimuddin Kiram tidak akan meninggalkan Sabah meskipun mendapatkan serangan militer terus dari pihak keamanan Malaysia.

Juru bicara Kementrian Luar Negeri Raul Hernandez pada hari Jumat mengatakan bila grup Raja Muda tidak mempunyai pilihan kecuali meletakan senjatanya setelah seruan gencatan senjata ditolak oleh pemerintahan Malaysia. Kepolisian Malaysia mengatakan bila warga Filipina tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah, oleh karenanya operasi atas mereka akan terus dilakukan.

Wanita Hamil dan Anak Ditembaki Pihak Malaysia
sementara itu, putri Jaycel juga mengatakan bila mereka mendapatkan informasi bila pihak militer Malaysia juga telah melakukan penembakan terhadap wanita hamil dan anak-anak di Lahad Datu.

Namun Hernandez mengatakan bila DFA masih belum dapat mengkonfirmasi insiden ini dan mengetahui berapa jumlah total korban di Sabah.

Dari Malaysia dikabarkan saat ini telah tertangkap 79 orang yang terkait dengan gerakan Raja Muda di Sabah. Dan jumlah orang tewas telah mencapai 61 orang.

Konflik Sabah Bisa Melebar Ke Daerah Lain
Seorang tokoh Filipina mantan senator dan kepala staf Militer Rodolfo Biazon mengatakan bila ada kemungkinan bila kekerasan yang terjadi sekarang di Sabah melebar ke darah terdekat lainnya yaitu Tawi-Tawi. Dia mengatakan bila Angkatan Laut Filipina telah dikirimkan ke Sulu untuk mencegah kejadian itu terjadi di daerah lain.

Biazon juga mengatakan bila dia telah berbicara dengan beberapa pemimpin Muslim di Muntinlupa dan mendapatkan beragam pendapat mengenai bagaimana cara untuk mengakhiri konflik ini yang menurut kepolisian Malaysia telah memakan korban lebih dari 60 orang.

Dia mengatakan bahkan sebagian dari mereka menganjurkan agar pemerintahan Filipina harus mengirimkan pasukan ke Sabah untuk membantu tercapainya tujuan Sultan Sulu Jamalul Kiram III.
Biazon juga mengungkapkan kemungkinan yang lain untuk menghentikan konflik ini yaitu dengan mengirimkan grup kecil yang terdiri dari politikus, ulama dan pemimpin tradisional dari pemerintahan otonomi Mindanao.

Pada perkembangan terakhir, 27 orang yang telah ditangkap di wilayah perairan Tanjung Batu yang terdiri dari 3 perahu karena dicurigai oleh pemerintahan Malaysia. Mereka terlihat sedang mencari ikan namun mencurigakan, demikian menurut Ismail kepala kepolisian Malaysia.


sumber: abs-cbn, youtube

Jumat, 08 Maret 2013

Raja Muda Agbimuddin Kiram Dikabarkan Tewas, Kesultanan Sulu Membantah

Sabah - Raja Muda Agbimuddin Kiram dikabarkan tewas setelah Tan Sri Ismail Omar - Inspektur Jenderal Polisi Malaysia - menyatakan kemungkinan tersebut dalam konferensi pers kemarin. Menjawab pertanyaan wartawan, "Untuk sekarang, kita dapat mengatakan bila berdasarkan baju diantara semua yang terbunuh terlihat ini pimpinannya", demikian katanya.

Dia juga mengatakan bila adanya rumor 700 orang penyusup telah masuk ke Sabah untuk memberikan bantuan itu adalah rumor dan kabar bohong saja. Namun dia juga mengakui bila tentara kesultanan Sulu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Meskipun ada seruan gencatan senjata dari Sultan Sulu, operasi terus tetap dilakukan.

Namun klaim ini dibantah oleh Abraham Idjirani juru bicara kesultanan Sulu. Dia mengatakan bila dia baru saja berbicara dengan Raja Muda sekitar pukul 5 sore waktu setempat. "Kami berbicara sekitar 10 menit lalu. Mereka tidak apa-apa. Hanya menghindari bom yang dibuat oleh polisi dan Militer Malaysia", demikian katanya dengan bahasa tagalog ketika berbicara dengan wartawan ANC.

Menurutnya apa yang disampaikan oleh Malaysia hanyalah propaganda belaka. Berbeda dengan pernyataan pihak Malaysia mengenai korban dari Tentara Kesultanan Sulu, menurut Idjirani korban yang jatuh tidak sebesar itu. Menurutnya dari 235 anggota Tentara Kesultanan Sulu hanya 10 orang yang tewas, 10 orang ditawan dan 4 orang terluka.

Menurut versi pemerintah Malaysia, korban yang telah jatuh sekitar 60 orang saat ini, dan kemarin dikatakan sekitar 50 orang ditangkap karena dicurigai terlibat dengan gerakan perlawanan ini.

Dari Filipina sendiri setelah mendapatkan tekanan dari publik, departemen luar negeri Filipina(DFA) mendesak Malaysia agar membuka akses selebar-lebarnya untuk tim kemanusiaan. Menurut DFA, tim ini akan bertugas untuk memberikan bantuan kepada warga Filipina yang ditahan oleh pemerintahan Malaysia.

sumber:ANC, abs-cbn, thestar

Kamis, 07 Maret 2013

Kiram Kembali Menegaskan Gencatan Senjata Terhadap Malaysia

Manila - Sultan Sulu Jamalul Kiram III yang sebelumnya telah menyerukan gencatan senjata di Sabah dan kemudian ditolak oleh Malaysia, hari Kamis kemarin kembali menegaskan gencatan senjatanya. Namun PM Malaysia Najib Razak mengatakan bila pasukan bersenjata ini harus meletakan senjata mereka dan menyerah tanpa syarat.

Pasukan keamanan Malaysia mengatakan bila mereka telah membunuh 52 orang militan Filipina, namun juru bicara kesultanan Sulu kembali menawarakan gencatan senjata.
Dia mengatakan bila mereka bersedia untuk mengatur pelepasan sandera yang terdiri dari 4 orang warga Malaysia - seorang polisi, dua personel militer dan seorang pejabat pemerintah - yang ditahan oleh pasukan mereka bila Malaysia setuju untuk gencatan senjata.

"Tentara Kesultanan tidak mempunyai sandera, namun rakyat yang bangkit di Semporna yang memilikinya, jadi kami akan meminta kepada mereka. Kami akan meminta mereka untuk mengikuti mandat dari PBB", demikian dia menambahkan.

Tentara Malaysia telah melacak kelompok ini diwilayah pesisir yang didominasi oleh pohon sawit setelah banyak dari anggota pasukan ini selamat dari serangan besar-besaran kemarin.


Keluarga Kiram Memikirkan Pindah Warga Negara

Dari Filipina Dayang Fatima Celia Kiram, istri dari Sultan Sulu pada hari Kamis menyatakan bila mereka memikirkan opsi untuk berganti kewarganegaraan karena merasa putus asa dan tidak dihormati oleh pemerintahan Aquino.
Kiram menjadi tamu kehormatan di sebuah acara Rotary Club di selatan Mania hari Kamis ketika dia memberikan pidato tentang Kesultanan Sulu. Dalam presentasinya dia menceritakan bagaimana sejarah dan klaim mereka terhadap Borneo Utara atau Sabah. Dia merasa heran kenapa mayoritas warga Filipina tidak diberikan pendidikan tentang betapa kayanya sejarah Kesultanan Sulu yang telah ada ratusan tahun sebelum penjajah Spanyol datang.

"Tapi saya ingin mengklarifikasi bahwa hal ini (pindah kewarganegaraan) adalah sesuatu yang muncul ke permukaan karena rasa putus asa. Tentu saja kami lebih menyukai untuk tetap menjadi warga Filipina", demikian dia menambahkan.

Disisi lah kekisruhan juga muncul ketika para wartawan Filipina memprotes dengan keras tindakan pemerintah yang mengirimkan agen rahasia melakukan penyusupan ke tempat tinggal keluarga Kiram dengan berpura-pura menjadi wartawan.
Wartawan berlasan bahwa tindakan itu tidak etis dan bisa membahayakan keamanan wartawan yang asli karena mereka bisa dicurigai.
Esmeralda direktur bagian intelejen dari National Bureau of Investigation (NBI) mengkonfirmasi bila 3 agen NBI dikirim untuk pergi ke kediaman Kiram di Taguig City hari Rabu kemarin. Dia mengatakan bila operasi ini resmi dan bertujuan untuk memonitor keadaan keamanan di area tersebut.

Dari Malaysia sendiri tadi pagi telah dilakukan kembali serangan terhadap kampung Tanduo. Pesawat terbang terlihat melakukan bermanuver dan menembakan roket. Najib mengatakan apa yang dilakukan pemerintah demi menjaga kedaulatan pemerintah.
Di wilayah konflik mobil militer Malaysia berputar-putar dan melalui pengeras suara terus menghimbau agar warga tidak menyiarkan kabar burung yang tidak jelas tentang situasi terkini disana.

Sumber: ABS-CBN, youtube

Sultan Sulu Menyerukan Gencatan Senjata - Malaysia Menolak

Manila - Kesultanan Sulu menyerukan gencatan senjata segera terhadap kebuntuan yang sekarang terjadi di Sabah menyusul seruan dari Sekjen PBB Ban ki-Moon untuk mengakhir kekerasan dan memulai dialog. Demikan ABS-CBN melaporkan.

"Sultan Jamalul Kiram III menyerukan gencatan senjata yang dimulai efektif siang ini sekitar jam 12:30", demikian juru bicara kesultanan Abraham Idjirani dihadapan para wartawan di kantor mereka di Taguig.

Dia mengatakan bila ini untuk menghormati seruan dari sekjen PBB Ban untuk mengakhiri kekerasan disana dan menyelamatkan banyak nyawa.

Dia juga mengatakan bila serangan yang dilakukan oleh pihak berwenang Malaysia kemaren terhadap 40 orang warga tak berdosa juga telah membunuh seorang bayi di dalam sel penjara.

Sikap Bertahan
Dia berharap Malaysia akan membalas seruan tersebut ditengah bombardir yang terus dilakukan oleh tentara Malaysia terhadap kelompok pangeran mahkota Raja Muda Agbimuddin Kiram, saudara dari Sultan. Ia mengatakan bila tentara kerajaan hanya akan mengambil sikaf defensif. Ini artinya mereka tidak akan meninggalkan Sabat, tapi tidak akan mengambil tindakan apapun terhadap pihak lain.

Sementara mereka mungkin dalam posisi yang kurang menguntungkan, Idjirani mengatakan bila mereka telah menunjukkan kepada dunia bila "Sultan dan kesultanan mempunya toleransi Islam". Dia mengatakan kedua belah pihak adalah Muslim. Sudah saatnya dunia tau siapa sebenarnya yang mengikuti "prinsip-prinsip Islam".

Sekjen PBB saat ini menyatakan keprihatinan tentang dampak dari kebuntuan ini terhadap penduduk sipil termasuk migran yang ada di wilayah tersebut. Ban sedang memantau situasi di Sabah dan ingin melihat semua pihak terlibat dalam perundingan bagi penuyelesaian masalah ini dengan damai, demikian pernyataan resmi PBB.

Dia juga mendesak semua pihak untuk memfasilitasi pengiriman bantuan kemanusiaan dan memberikan penghormatan penuh terhadap norma-norma hak asasi manusia secara internasional.


Malaysia Menolak Gencatan Senjata
Dari pihak Malaysia, menhan Malaysia menolak gencatan senjata yang diserukan oleh Sultan gadungan Filipina kecuali para anggota pasukannya menyerahkan diri tanpa syarat.

"Sebuah gencatan senjata tanpa syarat sepihak tidak diterima oleh Malaysia kecuali milisi menyerah dengan tanpa syarat", demikian pernyataan menhan Malaysia Ahmad Zahid Hamidi pada account twitternya.

Zhid menambahkan, "Jangan percaya gencatan senjata yang ditawarkan oleh Jamalul Kiram demi kepentingan penduduk Sabah dan semua warga Malaysia, sapu bersih semua milisi terlebih dahulu".

Sumber: ABS-CBN

Rabu, 06 Maret 2013

Sudah Terlambat Untuk Minta Maaf, Kiram Berkata Pada Manila


Kuala Lumpur - Keluarga Kiram menyambut dingin terhadap pernyataan pemerintah Filipina kemarin setelah pemerintah menyatakan akan meminta maaf atas kesalahan pemerintah terhadap surat yang dikirimkan oleh Kesultanan Sulu mengenai status Sabah kepada pemerintahan Filipina di tahun 2010.

Surat itu diberikan 2 hari sebelum presiden Benigno naik menjadi presiden dan berisi tentang permintaan kebijaksanaan dari pemerintah Filipihan atas klaim warga Sulu terhadap Sabah.
"Saya bermaksud untuk menulis surat permintaan maaf", demikian Del Sario Menteri Luar Negeri Filipina berkata.

Dalam pernyataannya di website kementerian luar negeri (DFA), mereka mengakui bila surat dari Agbimuddin - raja muda Kesultanan Sulu yang memimping pasukan Kesultanan Sulu di Sabah - telah ditemukan di tempatnya.
"... surat itu telah ditemukan oleh DFA. Kementrian bertanggung jawab penuh terhadap pengawasan surat tersebut", demikian pernyataan di website mereka.

Aquino sebelumnya menyatakan bila surat itu besar kemungkinan telah hilang dalam rimba birokiratik, sedangkan juru bicara kepresidenan Edwin Lacierda mengatakan sebelumnya bahwa mereka tidak pernah menerima surat dari Abgimudin.

Surat itu pertama berisi ucapan selamat terhadap terpilihnya Aquino di kepresidenan seblum mendesak bimbingan pemerintah atas kepemilikan Kesultanan Sabah serta peran dalam pembicaraan perdamaian dengna Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Malaysia adalah fasilitator dalam perundingan damai ini.

Dalam surat itu Agbimuddin juga melaporkan kepada Aquino tentang beridrinya Interim Supreme Royal Ruling Council (ISRRC) dibawah kesultanan, menyusul serangkaian konsultasi di Siminul, Indanan dan Kawit di Filipina. Agbimuddin yang merupakan chairman dari ISRRC juga menyatakan rasa frustasi dari seluruh pengikutnya karena diabaikan selama lima dekade lebih mengenai klaim mereka terhadap Sabah dan mengakhiri isi surat itu dengan harapan untuk melihat "perubahan dalam penanganan isu Sabah" dibawah administrasi Aquino.

Sultan Jamalul sendiri juga telah membuat surat terhadap Aquino di tahun 2011 dan tahun kemarin mengenai hal ini, namun juga tidak mendapatkan respond. Sehingga keluarlah dekrit kerajaan untuk memperbolehkan warganya kembali ke Sabah dengan para pengikutnya awal Februari tahun ini.

Fatima Celia, istri dari Sultan Sulu Jamalul Kiram III mengatakan pada ABN-CBS News bahwa pemerintah seharusnya meminta maaf kepada keluarga yang ditinggal oleh Tentara Kesultanan Sulu yang telah ditinggalkan. "Kerusakan telah terjadi? oh tidak. Nyawa telah hilang", demikian katanya di acara berita prime time pukul 8 di Filipina.

Aquino Menyalahkan Kesultanan Sulu
Sebelumnya Aquino menyalahkan Kesultanan Sulu telah membahayakan nasib hidup dan kejahtraan 800.000 orang warga Filipina yang ikut merantau bekerja di Malaysia. Aquino juga menampik bila pemerintah tidak memperhatikan isu ini. Dia juga mengingatkan publik tentang perjanjian tanggal 1 Februari 1968 dimana pengacara yang ditunjuk oleh kesultanan menyerahkan kekuasaan pada Pemerintah untuk mengurus isu Sabah. Mengirim tentara untuk mengklaim Sabah bukan jalan untuk menyelesaikan permasalahan antara Filipina dan Malaysia.

Pemerintah Filipina saat ini mendapatkan repond keras dari publik karena membiarkan warga Filipina mendapatkan aksi keras dari pemerintahan Malaysia. Namun perwakilan dari pemerintah selalu menyatakan bila apa yang terjadi tidak dapat dihindari karena Filipina pun akan melakukan hal yang sama bila menghadapi situasi yang sama.

13 Tentara Kesultanan Sulu Dikonfirmasi Tewas
Kementrian Pertahanan Malaysia juga melakukan pernyataan pers bahwa 13 anggota tentara Kesultanan Sulu telah tewas. Dua buah photo ditunjukkan kepada wartawan. Belum diketahui dengan jelas oleh sebab apa mereka tewas, apakah karena bombardir atau karena peluru. Sebelumnya Malaysi melakukan serangan besar-besaran terhadap konsentrasi Tentara Kesultanan Sulu dengan mengirimkan tiga pesawat F-18 dan lima pesawat Hawk, sedangkan di darat lebih dari 5 batalyon tentara dan polisi dikerahkan.

Jumlah pasukan yang dikirimkan simpang siur mengingat pemerintah menolak untuk menyatakan berapa banyak jumlah tentara yang dikirimkan untuk mengusir milisi Sulu dengan alasan untuk menjaga agar strategi tetap rahasia. Pemboman dilakukan juga dengan hati-hati di wilayah seluar 4km persegi, demikian menurut kementrian Pertahanan Malaysia.

Jacel - anak dari Jamalul Kiram, salah satu dari 9 pewaris tahta Kesultanan Sulu - menyatakan bila kemarin pamannya raja muda Agbimuddin bersedia untuk melepaskan empat orang sandera Malaysia yang ditawan di depan media Internasional dan Palang Merah Internasional untuk menunjukkan bila mereka tidak dilukai.
Setelah pertempuran di akhir minggu lalu dengan polisi Malaysia, tentara Kesultanan Sulu menyatakan bila mereka telah menangkap empat orang warga Malaysia yang terdiri dari seorang polisi, dua orang tentara dan seorang pejabat pemerintah.

Namun pernyataan ini ditolak mentah-mentah oleh pemerintah Malaysia yang menyatakan tidak ada sandera yang ditawan oleh militan ini.

Propaganda Dari Pemerintah Malaysia?
Dalam waktu bersamaan, kantor berita corong pemerintah Malaysia, bernama, mengeluarkan beberapa buah artikel yang melemahkan klaim dari Kesultanan Sulu terhadap Sabah. Menurut berita yang dilansir ulang oleh New Straits Times dari Bernama, Jamalul Kiram III adalah Sultan sulu yang palsu, demikian menurut informasi yang katanya berasal dari orang dalam keluarga Kesultanan Sulu.
Sumber ini yang katanya mengetahui dengan dalam sejarah keluarga Kesultanan Sulu menyatakan bila menurut silsilah keluarga, Jamalul Kiram III memang anggota keluarga, namun tidak termasuk kedalam sembilan orang ahli waris yang berhak menerima pembayaran sewa tanah.
"Ketika Jamalul Kiram II meninggal tahun 1936, dia tidak meninggalkan pewaris tahta dan BNBC (British North Borneo Company) menghentikan pembayaran. Jadi, sembilan perwakilan pergi ke pengadilan untuk menyatakan diri bahwa mereka berhak mendapatkan pembayaran tersebut", demikian katanya.

Ditahun 2011, anak turun dari sembilan orang ini mendapatkan perintah dari pengadilan Sulu yang mengakui mereka sebagai pewaris dari grup 9 yang mewakili kesultanan Sulu dulu. Generasi kedua ini adalah: Dayang Dayang Piandao Taj-Mahal Kiram-Tarsum Nuqui, Putli Nurhima Kiram-Forman, Siti Ayesha K.H Sampang, Sulatan Fuad A. Kiram, Dayang-Dayang Sheramar T. Kiram, Princess Permaisuri Kiram Guerson dan Sitti Jenny K.A Sampang

Dalam artikel lainnya, bernama juga melansir pernyataan para ahli sejarah bila Sabah memang resmi menjadi bagian dari Malaysia setelah sebelumnya telah melakukan referendum yang dilakukan oleh Cobbold Commission ditahun 1962 dan diakui oleh PBB, demikian pernyataan Mosli Tarsat seorang sejarawan dari Universitas Sabah.
Cobbold Commission yang mengadakan referendum selama 4 bulan di Sabah dan Sarawak menerima 2200 memo dengan 80% warga dikatakan mendukung pembentukan Malaysia.
Menteri Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Dr. Rais Yatim juga menyatakan bila Sabah secara sah adalah bagian dari pemerintahan Malaysia dan telah diakui secara Internasional. Hal ini juga di dukung oleh Profeso Dr. Ramlah Adam, dia barkata, "Mereka tidak bisa mengklaim hanya berdasarkan sejarah. Sebagai contoh, pemerintahan kecil Kedah, Perlis, Kelantan dan Terengganu meminta kepada Inggris, mereka tidak akan bisa mengklaim negara".
Ramlah mengatakan kepada warga Malaysia terutama di Sabah harus jelas mengenai apa yang terjadi dan negara supaya tetap aman dan utuh.

Warga Mengungsi dan MILF Menolak Terlibat
Setelah serangan kemarin, sekitar 2000 warga dari 7 desa yang ada di Kampung Tanduo mengungsi ke Embara Budi dan Fajar Harapan setelah militer semakin memperlebar kejaran mereka terhadap para militan. Makanan juga dikirimkan oleh National Security Council (NSC) sore kemaren di tempat penampungan sementara.

Sedangkan dari Filipina, MILF - kelompok militer sempalan dari MNLF dengan diwakili oleh ketuanya: Al-Haj Murad Ebrahim menyatakan bila konfrontasi antara teroris dan kekuatan keamanan di Lahad Datu dan Semporna adalah permasalahan Kuala Lumpur dan administrasi Manila untuk menyelesaikan.
"Warga kami tidak terlibat dalam penyusupan. Kita tidak ingin terlibat dalam permasalahan ini, dan kami tidak ingin membuatkan semakin sulit", demikian katanya terhadap Bernama melalui wawancara eksklusif dengan telepon dari benteng pertahanannya di Camp Darapanan di Sultan Kudarat, Maguindanao, Filipina Selatan kemarin.

Sumber: themalaysianinsider, nst, theborneopost

Selasa, 05 Maret 2013

10 Ribu Warga Kesultanan Sulu Datang Ke Sabah

Kuching - Dalam perkembangna terakhir, kemarin ketua Komite Dewan Islam MNLF Habib Hashim Mudjahab mengatakan bila ribuan warga dari kepulauan Basilan, Sulu, Zamboanga dan Tawi-tawi telah berlayar ke Sabah untuk membantu tentara Kesultanan Sulu. Demikian dilaporkan Philippine Daily kemarin.

"Kami tidak lagi bisa menahan warga kami. Kami sangat terluka dan banyak dari warga kami meskipun bukan tentara pergi ke Sabah untuk membantu Sultan".

Mudjahab mengatakan paling tidak 10 ribu warga dari pulau-pulau ini telah berlayar untuk memantu pengikut Sultan Jamalul Kiram III yang sekarang tertahan di pesisir desa Kampong Tanduo sejak semalam. Dia mengatakan bila bala bantuan berlayar dalam kelompok kecil sehingga mereka bisa masuk ke perairan Sabah tanpa diketahui.

Beberapa dari tentara MNLF telah ikut bersama Tentara Kesultanan Sulu untuk membantu mereka. "Saya telah mengatakan kepada mereka untuk menahan diri dan menghindari emosi karena terpengaruh oleh situasi. Tapi presiden kami Noynoy (Benigno III Red.) terus mengeluarkan pernyataan yang banyak membantu Malaysia yang menyebabkan rakyat kami semakin gelisah. Presiden harus tahu untuk Tausugs, apabila dipojokan ke dinding, melawan untuk tujua, kematian adalah kemenangan", demikian katanya, kemudian dia menambahkan, "Ini tentang kebanggaan dan kehormatan dan rakyat kita siap untuk berkorban".

Ajil Jaffar 50 tahun seorang pekerja perkebunan di kota Kinabalu mengatakan dia pun ingin pergi ke Sabah. "Saya ingin menolong mereka. Suatu kehormatan untuk bersama Sultan sehingga pelanggaran ini bisa berhenti".
Seorang warga Tawi-Tawi yang tidak mau disebutkan namanya juga menambahkan bila Kesultanan Sulu ada sebagai representasi dari warisan yang kaya. "Mereka adalah warga paling awal Filipina. Kesultanan Sulu telah ada sebelum Filipina ada", demikian katanya.

Philippine Star melaporkan bila polisi Filipina telah berhasil mencegah 70 orang pendukung kesultanan Sulu untuk meninggalkan Mindanao. Namun salah seorang warga mengatakan, "Kami sudah terbiasa untuk menyusup menembus penjagaan militer, menyusup ke Sabah adalah hal mudah", demikian menurut warga yang lain.

Disisi lain ketua dari MNLF Nur Misuari memperingatkan Malaysia untuk tidak membunuh para pengikut Sultan Sulu di Lahad Datu karena bila hal itu dilakukan berarti Malaysia mendeklarasikan perang terhadap rakyat dan MNLF.
Namun Misuari juga menyangkal tuduhan bila dia dibalik gerakan yang dilakukan oleh Sultan Sulu di Sabah.

"Itu adalah tuduhan liar. Saya sama sekali tidak memerintahkan siapapun untuk melakukan hal ini. Saya tidak dapat, anda tahu, merebut peran Sultan", demikan katanya pada wartawan di Manila.

sumber: theborneopost, freemalaysiatoday, themalaysianinsider, NST