Tampilkan postingan dengan label norwegia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label norwegia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2013

Belgia Negara Keempat Yang Menolak Menjadi Tempat Untuk Menghancurkan Senjata Kimia Suriah

Pemburuan negara untuk menerima tanahnya menjadi tempat memusnahkan senjata kimia Suriah masih berlanjut setelah Belgia akhirnya menyatakan penolakannya atas permintaan ini.

Rencana dunia Internasional untuk memusnahkan senjata kimia Suriah mengalami jalan buntu setelah tidak ada negara yang setuju agar tanahnya dipakai untuk memusnahkan senjata kimia ini. Albania, Norwegia, Belgia dan Prancis telah didekati namun ke-empat negara ini ternyata menyatakan penolakannya.

Pieter De Crem, Menhan Belgia menyatakan bila negaranya telah dicoba untuk dihubungi sehubungan dengan pengalaman negara ini dalam memusnahkan senjata kimia pada saat perang dunia pertama.

Seorang konsultan yang menangani perlucutan senjata kimia - Ralph Trapp - menyatakan saat ini tinggal sedikit negara kandidat yang saat ini bisa untuk melaksanakan pemusnahan senjata kimia ini yang totalnya sebanyak 1.300 ton.

"Banyak negara terbiasa untuk memusnahkan senjata kimia tipe lama, namun memusnahkan gas syaraf jenis baru seperti sarin memerlukan proses yang berbeda", demikian katanya.

Amerika dan Rusia dapat melakukan pekerjaan tersebut, namun hukum AS melarang untuk mengimport senjata kimia untuk pemusnah massal. Sedangkan Rusia mengatakan bila fasilitas yang dimiliki mereka saat ini sedang penuh untuk melakukan pemusnahan senjata kimia milik mereka sendiri.

Menurut Trapp kemungkinan besar akhirnya Rusia sendiri yang akan melakukannya karena negara inilah yang menjadi sekutu terdekat Suriah. Norwegia sendiri telah menyatakan kesediaan mereka untuk mengangkut senjata kimia tersebut menuju tempat yang belum diketahui.

Badan yang melarang penggunaan senjata kimia (OPCW) telah menyetujui sebuah rencana ambisius mengenai pemusnahan senjata massal Suriah. Tanggal 31 Desember semua senjata kimia itu diberi batas waktu untuk segera meninggalkan Suriah, dan semua senjata telah selesai dimusnahkan pada tanggal 30 Juni.

sumber: telegraph

Kamis, 14 November 2013

Norwegia Mengirimkan Kapal ke Suriah Untuk Mengangkut Senjata Kimia

Norwegia pada hari Kamis menjadi negara pertama yang mengkonfirmasi bila mereka mengirimkan tentara militer ke Suriah dan membantu PBB untuk memusnahkan senjata kimia pemerintahan Assad.

Menlu Norwegia Borge Brende mengatakan bila negaranya akan mengirimkan sebuah kapal cargo sipil dan sebuah frigat Angkatan Laut ke dermaga Suriah untuk mengangkut senjata kimia tersebut dan membawanya ke tempat lain untuk dimusnahkan.

Dalam sebuah interview dengan AFP, Brende menggambarkan bila pemusnahan senjata kimia Suriah adalah kewajiban Norwegia. 50 tentara akan ikut bersama frigat Norwegia dan Brende mengetahui bila operasi ini bukan tanpa resiko.

Badan PBB untuk pencegahan senjata kimia masih sedang mengerjakan rencana untuk menghancurkan persediaan senjata kimia Assad. Denmark sedang mempertimbangkan bantuan transportasi serupa dan sedang menunggu persetujuan parlemen.

Koordinasi dari banyak negara ini merupakan rencana B dari presiden Barrack Obama setelah dia gagal mendapatkan dukungan dari dalam negeri dan internasional untuk melakukan serangan militer terhadap Suriah yang dipimpin oleh presiden Bashar Al-Assad.

Brende mengatakan bila detail lebih jelas masih sedang dipikirkan seperti dimana dermaga yang akan dipakai untuk mengambil senjata kimia tersebut. Dia pun menolak untuk mengatakan kemana senjata kimia itu akan dibawa.

Albania kemarin dilaporkan sebagai salah satu negara yang menjadi tujuan untuk menghancurkan senjata kimia ini. Sekitar 5000 warag Albania melakukan demonstrasi pada hari Kamis diluar parlemen dan kantor PM menyatakan penolakannya.

Norwegia juga menyatakan akan memberikan donasi sebesar $14.5 juta untuk senjata kimia dan tambahan 16 juta dollar untuk bantuan kemanusiaan bagi warga sipil Suriah. Total bantuan yang telah diberikan oleh Norwegia untuk bantuan kemanusiaan selama perang mencapai 137 juta dollar.

sumber: alarabiya